oleh

PT Datascrip, Tumbuh Dengan Catur Sila

Share:

Teguh berpegang pada budaya Catur Sila, sebuah toko kecil bernama PD Matahari di tahun 1969, kini berhasil melakukan transformasi menjadi perusahaan raksasa. Dari semula hanya menjual alat-alat tulis, kini memasarkan ribuan produk kebutuhan bisnis dan perlengkapan kantor. Wilayah distribusi membentang dari Sabang hingga Merauke.

(Penulis: Mada Mahfud)

TaglineBusiness Solutions” membuat orang tak kesulitan melihat posisi PT Datascrip. Perusahaan ini memasarkan berbagai produk  perlengkapan bisnis dan perkantoran. Rentang produknya cukup luas mulai dari kamera, printer, notebook, personal computer, smartphone, penjepit kertas, stapler, marker, kertas, mesin faks, hingga furniture perkantoran.

Suasana Datascrip Service Center

PT Datascrip didirikan Joe Kamdani tahun 1969. Joe bukanlah siapa-siapa kala itu. Ia hanyalah anak seorang pegawai negeri golongan bawah. Kekurangan biaya membuatnya putus sekolah dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Berbekal pengalamannya menjadi salesman peralatan kantor, Joe lalu membeli sebuah rumah sederhana di Pacenongan, Jakarta. Dari rumah sederhana itu, didirikanlah sebuat toko dengan nama PD Matahari. Pada 1978, PD Matahari diubah namanya menjadi PT Datascrip.

Keberhasilan Datascrip tidaklah muncul begitu saja. Ada kiat tertentu yang membuatnya berkembang pesat hingga kini mengoperasikan 10 kantor cabang, 12 service center dan mempekerjakan 1.700 karyawan.

“Kita sejak awal menerapkan budaya Catur Sila,” ungkap Irwan Kamdani, Presiden Direktor PT Datascrip Indonesia kepada Kabare. Irwan adalah putra Joe Kamdani, sang pendiri perusahaan.

Irwan Kamdani, Presiden Direktur PT Datascrip (Foto: Datascrip)

Budaya Catur Sila terdiri dari empat nilai yaitu Succed Above Succes, Care, Smile, dan CoCoCoCo. “Ini menjadi budaya semua insan Datascrip, menjadi way of life yang harus dijalankan,” tegas Irwan Kamdani.

Succed Above Succes adalah keyakinan bahwa jika ingin berhasil dalam manajemen, atasan harus membuat bawahan berhasil dulu. Caranya dengan terus membina, membimbing, dan memberdayakan bawahan. Kesuksesan yang hakiki adalah sukses bersama, bukan mengorbankan orang lain. Nilai budaya Succed Above Succes juga diarahkan untuk kesuksesan mitra usaha.

“Kita mendorong orang untuk berhasil. Dengan keberhasilan karyawan, perusahaan juga ikut berhasil,” tambah Irwan Kamdani.

Care terdiri dari customer interest, attentive, responsive, dan enthusiasm. Budaya Care ini ditujukan untuk memuaskan kepentingan pelanggan. Datascrip menempatkan kepentingan pelanggan dalam posisi yang sangat tinggi. Pelanggan adalah faktor terpenting bagi suatu usaha. Tidak ada perusahaan yang bisa bertahan jika tidak ada pelanggannya.

Maka pelanggan harus dipertahankan, dikembangkan dan terus dicari. Setiap insan Datascrip terus didorong melayani kepentingan pelanggan dengan sikap yang penuh perhatian (attentive), responsif dan antusias. Dengan budaya Care, pelanggan diharapkan mendapat perasaan senang atas barang yang dibelinya.

“Budaya Care berarti setiap insan Datascrip harus memberikan perhatian kepada kepentingan pelanggan serta menjaga hubungan baik dengan pelanggan,” cetus Irwan.

Budaya Smile terdiri dari share, motivate, improve, lead, dan efficient. Budaya Smile lebih ditujukan bagi pimpinan dalam mengelola bawahannya. Setiap pemimpin harus membagi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan. Pimpinan juga harus memberikan motivasi, mengembangkan, dan memimpin tim untuk bekerja dengan baik dan efisien.

Sementara budaya keempat, CoCoCoCo adalah communication, cooperation, coordination, dan commitment. Budaya ini menjadi pegangan semua insan Datascrip untuk bekerja sebagai sebuah tim. Maka komunikasi, kerja sama, koordinasi dan komitmen menjadi nilai-nilai bersama dalam menumbuhkan kerja sama tim. “Dalam manajemen, kita tidak lepas dari berkomunikasi, bekerja sama dan berkoordinasi,” kata Irwan.

Datascrip berkomitmen agar barang yang dibeli, sampai ke tangan pembeli, dalam kurun waktu yang dijanjikan dan tanpa kerusakan apapun. (Foto: Datascrip)

Catur Sila bukan sekadar dimengerti dan diingat saja, melainkan menjadi way of life yang harus dijalankan. Budaya Catur Sila harus menyatu dalam sikap dan tindakan yang berlaku bagi semua insan Datascrip, tanpa melihat hirarki jabatan.

Upaya internalisasi nilai-nilai Catur Sila terus dilakukan. Berbagai program orientasi karyawan digelar. Dalam penanaman nilai-nilai, peran pemimpin setiap bagian, cukup penting. Mereka adalah panutan yang menjadi contoh profil ideal bagi timnya. Tanpa panutan, nilai–nilai hanya akan berakhir dengan slogan saja.

Jika dalam operasional sehari-hari terjadi masalah, budaya Catur Sila menjadi rujukan. Berbagai hal ditelaah untuk melihat bagian dari Catur Sila yang belum dijalankan. “Kita memastikan hal tersebut diterapkan dalam keseharian. Pemimpin setiap bagian menjadi contoh yang memegang komitmen untuk menjalankan nilai–nilai Catur Sila. Sanksi bagi pelanggaran yang fatal pun ada, agar tidak terus berulang,” tegas Irwan.

Gudang PT Datascrip (Foto: Datascrip)

Budaya Catur Sila juga mendorong Datascrip terus berkembang untuk jangka waktu lebih dari 20 tahun ke depan. Berbagai strategi dijalankan mulai dari keep riding the wave, riding the way as in, hingga penerapan right men at the right place.

Keep riding the wave berarti mengikuti pergerakan dan perubahan zaman dan teknologi. Riding the wave as in dilakukan dengan cara menambah varian produk. Sementara rigth men at the place ditempuh dengan merekrut Sumber Daya Manusia berkualitas demi memastikan kehandalan tim.

Kualitas SDM begitu penting bagi Datascrip agar inovasi tetap bergulir. Sebagai perusahaan pemasaran dan distibusi, analisa yang jeli diperlukan sehingga produknya diterima masyarakat dan pelaku bisnis. Berbagai langkah dilakukan antara lain dengan menghadiri dan mengikuti berbagai pameran, seminar, hingga menganalisa tren kebutuhan pasar.

Sementara dari sisi distribusi produk, tantangan tak kalah besar mengingat kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dari Sabang hingga Merauke. Untuk menangani distribusi, Datascrip memiliki departemen logistik sendiri. (Mada Mahfud)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed