oleh

PT Astra International Tbk: Menjadi Raksasa Berbekal Catur Dharma

Share:

Berbekal filosofi Catur Dharma yang ditanamkan sejak berdirinya, Astra International menjelma menjadi perusahaan raksasa yang terus tumbuh. Kerja sama team menjadi dasar keberhasilan. Bagi mereka bukan sumber daya manusia berkategori superman yang dibutuhkan, melainkan orang yang mampu bekerja sama membentuk super team.

(Oleh Mada Mahfud)

Semua bermula dari nol, sama seperti perusahaan lainnya. Berawal tahun 1957, saat William Soeryadjaya mendirikan PT Astra International Incorporated. Dengan empat karyawan, Astra memulai usahanya mendistribusikan berbagai barang. Kini 58 tahun setelahnya, Astra berkembang menjadi 198 perusahaan dengan karyawan 221 ribu orang.

Nilai-nilai budaya Catur Dharma PT Astra International. (Foto: Kabare/Dhoddy Syailendra)

Bidang yang digarap merambah enam lini bisnis yaitu otomotif, jasa keuangan, alat berat-pertambangan, agribisnis, infrastruktur-logistik, dan teknologi informasi. Dengan berbagai lini bisnis tersebut total pendapatan bersih grup ini pada 2015 mencapai  Rp 184 triliun. Sedangkan laba bersihnya senilai Rp14,4 triliun.

Tak pelak dengan kesuksesan itu, PT Astra International Tbk menjadi role model dunia bisnis Indonesia. Apa yang membuat Astra berkembang sedemikian pesat? Filosofi Catur Dharma yang diperkenalkan sang pendiri William Soeryadjaya adalah jawabannya.

“Filosofi Catur Dharma adalah pedoman nilai diri dan pemersatu insan Astra dalam mewujudkan budaya unggul,” kata Yulian Warman, Head of Public Relations PT Astra International Tbk dalam perbincangan dengan Kabare Mei 2016 di Jakarta.

Catur Dharma terdiri atas empat nilai yaitu menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, menghargai individu dan membina kerja sama, dan senantiasa berusaha mencapai yang terbaik.

“Kalau kita perhatikan, empat nilai itu merupakan satu kesatuan. Dalam pelaksanaanya, prosesnya dimulai dari nilai yang keempat, ketiga, kedua dan akhirnya mengkrucut kepada nilai pertama. Semua ada proses dan alurnya. Selama prosesnya benar maka hasilnya juga akan benar,” beber Yulian.

Nilai keempat yang menjadi alur pertama adalah senantiasa berusaha mencapai yang terbaik. Dengan pemikiran ini, setiap individu harus berusaha melakukan yang terbaik. Namun karena perusahaan terdiri dari kumpulan orang dengan tujuan yang sama, maka kerja sama mutlak diperlukan. Tujuannya agar terbentuk sinergi demi mendapatkan hasil yang optimal.

“Makanya nilai yang ketiga adalah menghargai individu dan membina kerja sama,” jelas Yulian.

Lini produksi sepeda motor, salah satu bisnis utama PT Astra International (Foto: doc Astra)

Selanjutnya dengan kerjasama yang terbina, pelayanan terbaik kepada pelanggan bisa diwujudkan sebagaimana nilai kedua Catur Dharma.  Langkah perusahaan-perusahaan Astra Group memberikan pelayanan terbaik sudah mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Predikat kepuasan pelanggan pun kerap diraih dari berbagai lembaga survei.

PT Toyota Astra Motor misalnya dalam lima tahun berturut-turut belakangan ini menyabet predikat perusahaan dengan layanan pelanggan terbaik di Indonesia. Demikian pula PT Astra Honda Motor (AHM) meraih penghargaan Indonesia Customer Satisfaction Awards (ICSA) 2015.

“Setelah pelayanan terbaik kepada pelanggan diraih barulah kita bisa berbicara Catur Dharma pertama yaitu menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tegas Yulian.

Yulian mengaku bisa berbangga dengan berusaha memberi manfaat bagi bangsa dan negara, Astra sejauh ini dikenal sebagai grup perusahaan yang tidak bermasalah. Dia mencontohkan kasus kebakaran hutan dan lahan pada 2015, tidak satupun perusahaan perkebunan milik mereka terlibat.

“Jadi nilai-nilai Catur Dharma sudah menjadi pedoman insan Astra sebagai budaya,” tandasnya.

Langkah memberi manfaat bagi bangsa dan negara akan dipertajam lagi dengan keinginan Astra untuk meraih tujuan sebagai perusahaan kebanggan negara (pride of nations). Tujuan menjadi pride of nations dicanangkan pada 2010 dam ditargetkan tercapai tahun 2020.

“Jika orang membicarakan perusahaan Korea itu Samsung atau Jepang dengan Toyota. Kami ingin kalau membicarakan perusahaan Indonesia ya Astra,” cetus Yulian.

Keberhasilan Astra menancapkan nilai-nilai Catur Dharma tidak diraih begitu saja. Proses panjang dilalui dengan sistem yang terstruktur dan sistematis dalam pelatihan sumber daya manusia. Salah satunya dengan mendirikan pusat pendidikan sendiri yaitu Astra Management Development Institue (AMDI).

Menurut Riza Deliansyah, Head of Environtment & Social Responsibility PT Astra International Tbk, pada tahun 2015 saja AMDI menggelar 55 training SDM. Pesertanya mencapai 1,746 karyawan Astra dari berbagai level.

“Dalam training ini Catur Dharma selalu menjadi bahasan utama. Kita ingin benar-benar Catur Dharma menjadi perilaku,” tutur Riza.

Dengan pendidikan yang terstruktur dan sistematis, membuat SDM Astra Grup memiliki kultur dengan standar yang sama. Hasilnya Astra tidak kesulitan memindahkan karyawan dari satu perusahaan ke perusahaan lain sesuai kebutuhan.

“Kalau karyawan dipindahkan ke perusahaan lain dalam satu grup tidak akan menjadi masalah. Ini karena standarnya sama,” cetus Riza.

Inovasi Mengakar Kuat

Keberhasilan perusahaan melayani konsumen dengan produk dan jasa juga tergantung pada keberhasilan inovasi. Menyadari pentingnya inovasi, Astra sejak awal sudah menggelar lomba inovasi internal sejak 33 lalu.

Lomba inovasi skala besar digelar tiap tahun dalam banyak kategori mulai individu, kelompok hingga antar perusahaan Grup Astra.  Boleh dikata inovasi sudah menjadi budaya Astra. Hasilnya tidak mengecewakan, perusahaan di lingkup grup Astra secara umum menjadi pemimpin pasar di sektornya masing-masing.

“Kami menyebutnya sebagai kompetisi Innov Astra, ini wadah untuk menciptakan dan membangun budaya inovasi di dalam perusahaan. Ajang ini diselenggarakan tiap tahun tanpa henti, ini bukti konsistensi kami menerapkan improvement secara berkelanjutan,” papar Riza Deliansyah.

Salah satu hasil inovasi Grup Astra yang menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah Daihatsu Ayla dan Toyota Agya.  Mobil kategori Law Cost Green Car (LCGC) ini adalah hasil rancangan putra Indonesia, Mark  Yoshua Wijaya. Alumnus Jurusan Desain Produk ITS Surabaya ini adalah karyawan Riset and Development Daihatsu Astra Motor.

Karya Mark Widjaja ini mengalahkan rancangan tiga finalis dari Italia, Prancis dan Jepang dalam kompetisi internasional yang digelar Daihatsu Motor. Dan karya tersebut diterima masyarakat. Agya dan Ayla kini menjadi salah satu tambang uang bagi Astra. Pada 2015, Daihatsu Ayla dan Toyota Agya terjual sebanyak 92.730 unit dengan menguasai 56% pangsa pasar. Sedangkan tahun ini hingga Mei 2016, kedua mobil kembar ini mengalahkan pesaingnya sesama mobil LCGC dengan terjual 44.162 unit atau 63% pangsa pasar.

Berbagai cerita keberhasilan Grup Astra tersebut tak lepas dari kesuksesan mereka menanamkan  budaya perusahaan sejak grup ini dirintis 58 tahun lalu. (Mada Mahfud)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed