oleh

Empat Nilai Budaya Penopang PT Bank BCA Tbk

Share:

Produk-produk BCA bukanlah pionir. Namun begitu memutuskan berkompetisi di pasar, bank yang kini berumur 59 tahun ini selalu tampil menjadi juara. Pelaksanaan empat nilai menjadikan bank dengan 24 ribu karyawan ini sebagai salah satu bank terkuat di Indonesia.

(Penulis: Mada Mahfud)

Tercepat tidak selalu menjadi yang terbaik. Kehidupan pada dasarnya adalah perlombaan maraton yang panjang dan melelahkan. Jika ingin juara, semua harus diperhitungkan dengan detil dari start hingga finish. Tak menjadi soal start tertinggal, terpenting ujungnya, sang pelari mampu finish dalam posisi juara.

Filosofi maraton agaknya pas untuk menggambarkan BCA. Lihat saja, bank yang lahir 21 Februari 1957 ini bukanlah yang pertama menawarkan fasilitas ATM (Anjungan Tunai Mandiri) pada nasabahnya. Demikian juga dengan kartu Flazz, mobile banking dan internet banking, bank-bank lain meluncur lebih cepat. Namun pada ujungnya, ATM,  Kartu Flazz , mobile banking (m-BCA) dan internet banking (Klik BCA) menjadi yang terluas dan terbanyak penggunanya.

Butik ATM BCA (Foto doc BCA)

Tak perlu susah-susah menggambarkan kuatnya BCA, tengoklah jaringan ATM-nya. Butik ATM BCA seringkali menyendiri, berpisah dengan Butik ATM perbankan lain. Jangan salah sangka, itu bukanlah bentuk kesombongan sang market leader.  Namun semata pertimbangan kebutuhan.

Pada umumnya sebuah Butik ATM hanya mengizinkan satu bank menempatkan satu mesin ATM saja. Sedangkan pengguna ATM BCA cukup  banyak. Dampaknya antrian mengular sehingga mengganggu kenyamanan umum mengingat umumnya lokasi ATM berada di tempat-tempat yang ramai.

Tak ingin menganggu pengguna ATM lain yang terhalang antrian, bank yang didirikan Sudono Salim ini memutuskan menyewa Butik ATM sendiri. Mereka lebih leluasa memasang beberapa mesin ATM layanan tunai dan non tunai. Tujuan utamanya melayani nasabah seoptimal mungkin. Keberadaan ATM sesungguhnya untuk mengurangi antrian panjang nasabah yang melakukan transaksi di kantor-kantor BCA. Apa jadinya jika di Butik ATM pun antrian mengular juga.

“Dulu karena banyaknya antrian ada yang memplesetkan kepanjangan BCA menjadi Bank Capek Antri. Untuk itu dibuat ATM, tetapi ternyata ATM juga antriannya mengular. Solusinya kita membuat butik sendiri dengan banyak ATM. Memang kita jadi mengeluarkan banyak biaya tetapi demi layanan nasabah itu harus kami lakukan,” kata Lianawaty Suwono, Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT BCA Tbk saat menerima Kabare di Menara BCA, Jakarta beberapa waktu lalu.

Lianawaty Suwono, Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT BCA Tbk (Foto Kabare/ Dhodi Syailendra)

Tak hanya ATM, produk-produk lain BCA juga berakhir dengan keunggulan. Kartu Flazz, m-BCA dan Klik BCA merajai untuk kategorinya masing-masing.

Deretan angka-angka finansial juga membuktikan kilap performanya. Pada 2015 dengan aset Rp 594,373 triliun, BCA mampu meraup laba bersih Rp18,019 triliun. Kinerja keuangan tahun ini diperkirakan lebih baik lagi. Pada semester pertama 2016, BCA sudah meraup laba bersih Rp9,75 triliun dari total aset yang dikelola sebesar Rp626,176 triliun.

Lalu apa yang menjadikan BCA begitu kuat di pasar meski tidak selalu menjadi pionir? Kuatnya budaya perusahaan adalah jawabannya.

Visi misi dan tata nilai

Budaya perusahaan BCA terdiri dari visi, misi, dan tata nilai. Visinya menjadi bank pilihan utama andalan masyarakat yang berperan sebagai pilar penting perekonomian Indonesia.

Untuk menjadikan visi menjadi hal yang konkrit, BCA merumuskan tiga misi. Pertama, membangun institusi yang unggul di bidang penyelesaian pembayaran dan solusi keuangan bagi nasabah bisnis dan perseorangan. Kedua memahami beragam kebutuhan nasabah dan memberikan layanan finansial yang tepat demi tercapainya kepuasan optimal bagi nasabah.  Ketiga meningkatkan nilai francais dan nilai stakeholder BCA.

Gedung Kantor Pusat BCA di Jakarta (Foto: doc BCA)

Untuk mewujudkan visi misi tersebut, mereka perlu menyusun tata nilai yang menjadi pedoman segenap insan BCA. Tata nilai tersebut adalah fokus pada nasabah, integritas, kerjasama tim, dan berusaha mencapai yang terbaik.

“Tata nilai ini sebenarnya sudah ada sejak BCA berdiri, ibaratnya DNA BCA. Hanya pengkristalannya dalam bentuk kata-kata sejak tahun 2000,” tutur Lianawaty yang sudah bekerja di BCA selama 25 tahun.

Fokus pada nasabah diartikan sebagai memahami, mendalami dan memenuhi kebutuhan pelanggan dengan cara terbaik. Integritas adalah jujur, tulus, dan lurus.

“Sebagai lembaga keuangan, integritas sama sekali tidak bisa ditawar-tawar. Nasabah hanya mau menitipkan uangnya kalau mereka percaya. Kepercayaan dibangun melalui tindakan yang mencerminkan integritas dan etika bisnis yang tinggi secara konsisten,” tegas lulusan Information System dari San Francisco State University tahun 1990 ini.

Nilai yang ketiga adalah kerja sama tim yang dipahami sebagai himpunan orang yang memiliki pertalian khas, komitmen, tata cara dan sinergi untuk mencapai satu tujuan. Sementara nilai keempat yaitu berusaha mencapai yang terbaik dimaknai sebagai senantiasa melakukan yang terbaik dengan cara dan kualitas terbaik.

Konservatif

Lianawaty mengakui banyak perusahaan memiliki tata nilai yang mirip dengan BCA. Hanya yang membedakan adalah aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Masalahnya adalah seberapa jauh nilai-nilai itu meresap dalam kehidupan sehari-hari, itu yang dinamakan budaya. Kalau hanya di atas kertas, itu belum membudaya,” tegas wanita yang hingga kini menjadikan BCA sebagai satu-satunya tempat bekerja sejak bergabung pada 1991.

Lianawaty yang menjabat Direktur SDM Bank BCA sejak pertengahan 2016 ini mencontohkan meresapnya tata nilai terlihat dalam keputusan penting perusahaan. Mereka lebih memilih mempelajari layanan produk dengan matang sebelum diluncurkan meskipun butuh waktu. Proses tidak hanya dilakukan oleh divisi yang berkepentingan, tetapi selalu melibatkan divisi-divisi lain seperti Divisi Teknologi Informasi, Divisi Audit, Divisi Risk Management, Divisi Human Resources dan lainnya.

Panjangnya proses karena produk atau layanan yang dibuat BCA harus memberi nilai tambah signifikan bagi kelancaran aktivitas nasabah atau masyarakat bukan malah merepotkan.

“Dalam peluncuran layanan sebuah produk benar-benar tergambar empat nilai mulai dari fokus pada nasabah, integritas, kerjasama tim, dan berusaha mencapai yang terbaik,” ujar Lianawaty.

Dengan pertimbangan yang sangat detil membuat BCA terkesan selalu terlambat dalam peluncuran produknya. Namun bagi mereka yang terpenting adalah produk tersebut benar-benar bisa diandalkan, unggul dan minim masalah. Tujuannya agar nasabah percaya pada keamanan layanan mereka.

“Misalnya saja ATM, jika bank lain hadir dengan 100 masalah, kita cukup dengan 10 masalah saja. Itu karena kita konservatif, mempelajari semuanya dengan detil. Namun begitu produk diluncurkan, produk kita harus menjadi yang terbesar, ” lanjut Lianawaty.

Award Gallup (Foto dok BCA)

Kuatnya BCA dari sisi budaya kerja  telah mendapat pengakuan dunia. Pada 2015, BCA menerima penghargaan Great Workplace Award dari Gallup, perusahaan global yang bergerak di bidang konsultasi kinerja manajemen. BCA menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menerima penghargaan tersebut. (Mada Mahfud)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed